Bacaan Doa Qunut Shubuh Beserta Artinya

bacaan doa qunut

Sholat dikatakan sebagai tiang agama. Artinya sholat adalah pondasi dari semua amal perbuatan kita. Di dalam sholat terdapat aturan-aturan yang harus kita penuhi seperti menutup aurat, dan mengikuti rukun-rukunnya. Di antara rukun-rukun sholat yang tidak bisa ditinggalkan adalah bacaan doa qunut pada sholat shubuh.

Umat Islam adalah umat yang erat kaiatannya dengan ibadah. Seperti yang kita tahu, segala hal telah diatur mulai dari hal yang kecil dan sederhana hingga hal-hal yang bersifat prinsip dan kompleks. Salah satu ibadah yang wajib kita lakukan adalah sholat. Urutan tata cara dalam sholat yang benar bisa dibaca di bacaan sholat lengkap.

Pada dasarnya ada tiga macam doa qunut. Yang pertama adalah doa qunut Nazilah. Hukum doa Qunut ini adalah sunnah hai’ah yang jika lupa tidak dikerjakan maka tidak sunnah untuk melakukan sujud syahwi. Doa ini dilakukan ketika ada peristiwa atau musibah yang menimpa, contohnya bencana alam, banjir, longsor dan lain sebagainya.

Kedua yakni qunut sholat wirid yang biasa dilakukan pada akhir sholat witir setelah ruku’ pada separuh kedua di bulan ramadhan. Ketiga yaitu doa Qunut pada raka’at kedua sholat shubuh. Menurut pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad doa qunut pada shalat Shubuh ini hukumnya tidak disunnahkan karena hadist Nabi SAW diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud :

“Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud: Bahwa Rasululllah SAW telah melakukan doa qunurt selama satu bulan untuk mendoakan atas orang-orang Arab yang masih hidup, kemudian Nabi SAW meninggalkannya” (HR. Muslim)

Nah, berikut ini adalah bacaan doa Qunut Shubuh dengan tulisan arab, latin dan artinya:

bacaan doa qunut pertama

“Allahummah dinii fii man hadait.

Wa’aafinii fii man ‘aafaiit.

Wa tawallanii fii man tawallaiit.

Wa baarik lii fiimaa a’thaiit.

Wa qinii syarramaa qadthaiit.

Fa innaka taqdthii walaa yuqthdaa ‘alaiik.

Wa innahu laa yadzillu man wãlaiit.

Walaa ya’izzu man ‘aadaiit.

Tabaa rakta rabbanaa wata ’aalait

Fa lakal-hamdu ‘alaa maa qadhaiit

Astaghfiruka wa atuubu ilaiik,

wa shallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadinin-nabiyyil ummiyyi wa’alaa aalihii wa shahbihii wa sallam.”

Artinya :

Ya Allah tunjukkanlah kepadaku sebagaimana mereka yang sudah Engkau berikan petunjuk

Dan kasihkanlah kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau sudah kasih kesehatan

Dan periharalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau Pelihara

Dan berilah keberkahan padaku dari segala apa yang Engkau sudah karuniakan

Dan lindungilah aku dari segala bahaya kejahatan yang Engkau sudah pastikan

Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan tidak terkena hukum

Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin

Dan tidak mulia orang yang mana Engkau memusuhinya

Maha Suci Engkau dan Maha tinggi Engkau wahai Tuhan kami

Maha bagi Engkau seluruh pujian di atas yang Engkau hukumkan

Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau

Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi kami Muhammad, keluarga dan sahabatnya

*Keterangan: Ketika sholat shubuh dilakukan berjamaan maka arti yang berubah hanya “aku” menjadi “kami”.

Bacaan Doa Qunut bagi Imam

Perbedaan bacaan doa Qunut ada pada kata “nii” dan “naa”. Kata “nii” digunakan ketika sholat sendirian atau munfarid. Sedangkan kata “naa” digunakan oleh Imam ketika sedang sholat berjamaah.

Dalam perkara ibadah, doa Qunut sering menjadi perbedaan karena keragaman umat muslim di Indonesia. Bagi kaum Nahdliyin adanya perbedaan mengenai doa Qunut Shubuh ini sudah familiar. Perbedaan tersebut bisa terjadi akibat adanya perbedaan pemahaman terhadap hadist dan cara qiyas. Hal itu selaras dengan apa yang disebutkan oleh Iman Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Sementara bagi kalangan mazhab Abu Hanifah, doa Qunut hanya dilakukan ketika melaksanakan sholat witir.

Sedangkan kaum mazhab Ahmad bin Hanbal meyakini bahwa kesunnahan doa Qunut hanya ada pada Qunut Nazilah yakni ketika umat muslim sedang dilanda musibah. Berbeda dengan kalangan bermazhab Syafi’i yang banyak diamalkan di Indonesia bahwa membaca doa Qunut Shubuh termasuk ke dalam hukum sunnah ab’adl yang apabila ditinggalkan dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi.

Salah satu sandaran terkait dengan pandangan para ulama kalangan mazhab Syafi’i di antaranya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut ini:

“Rasulullah senantiasa berqunut di shalat fajar (shalat Subuh) hingga beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad)

Tak hanya Rasulullah, para sahabat seperti Umar bin Khattab pun melaksanakan doa Qunut ketika melakukan sholat shubuh. Meskipun bagi sebagian ulama, hadist tersebut masih perlu dipahami kembali latar belakangnya serta dibandingkan dengan hadist-hadist lainnya. Berikut ini adalah salah satu hadits yang membahas mengenai qunutnya Nabi pada waktu subuh yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak berqunut ketika shalat fajar (shalat Subuh), kecuali ketika mendoakan kebaikan atau keburukan untuk suatu kaum.” (HR. Muslim)

Hadits di atas dipahami para ulama bukan sebagai doa namun lebih kepada berdiri lebih lama untuk membaca doa yang lebih umum. Adapun terkait dengan sahabat Rasul Umar bin Khattab yang membaca doa Qunut pada sholat subuh dipahami oleh sebagian ulama sebagai doa Qunut Nazilah karena musibah dan perang yang terjadi kala itu. Begitulah menurut Ibnu Qudamah

Sedangkan Imam Malik bin Anas dalam suatu istilah fiqihnya membedakan perkara-perkara yang dianjurkan antara sunnah dan mustahab. Menurut Imam Malik, Qunut termasuk ke dalam amalan mustahab atau hal yang dianjurkan namun Nabi tidak mengamalkannya secara terus-menerus ketika beliau hidup. Menurut beberapa riwayat hadits, disebutkan bahwa Nabi Muhammad pernah membaca doa Qunut selama beberapa hari, lantas beliau meninggalkannya.

Masih menurut Imam Malik pula, doa qunut hendaknya dilakukan sebelum ruku’ secara dengan suara pelan, berbeda dengan mazhab Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal yang memiliki pendapat bahwa qunut dibaca setelah melakukan ruku’.

Itulah tadi beberapa hujjah yang menyebabkan perbedaan dalam mengamalkan doa Qunut dalam sholat subuh. Hingga saat ini perdebatan yang dahulu sempat memicu polemik dan konflik di masyarakat semakin mereda dengan adanya keterangan-keterangan yang diberikan oleh para ulama serta upaya saling menghargai perbedaan itu sendiri. Contohnya kalangan Nahdliyin yang biasanya membaca doa Qunut ketika sholat subuh, biasa saja mengikuti perbedaan yang terjadi ketika imam tidak membaca doa Qunut sewaktu sholat subuh berjamaah. Begitu pula sebaliknya, kalangan yang biasanya tidak membaca doa Qunut ketika sholat subuh, tidak masalah jika ikut membaca Qunut ketika imam sholat subuh membacanya.

Hal itu sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Imam Sufyan ats Tsauri yang menyatakan “Jika seseorang ingin melakukan qunut di waktu Subuh, maka itu ‘hasan’ (baik, dan termasuk sunnah). Dan jika tidak berqunut, itu juga ‘hasan’.”

Hal tersebut sekaligus memberikan pencerahan kepada kita semua. Semoga ulasan ini dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *